­

Tentang Jurusan

11:56:00 PM

Beberapa hari yang lalu, hasil ujian nasional tingkat SMA diumumkan. Nggak lama lagi bakal ada ujian SBMPTN, SIMAK, ujian mandiri dan segala macem ujian biar bisa ngelanjutin pendidikan di tingkat universitas. Gue nggak pengen ngebahas tentang ujiannya, yang gue pengen tulis disini adalah cerita gue tentang nyebrang jurusan.

Sekolah gue dulu adalah sebuah sekolah khusus IPA yang amat sangat mengedepankan nilai-nilai akademis. Diharapkan lulusannya bisa diterima di perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri di bidang sains. Sebagai murid yang baik, gue pun terpengaruh sama semangat sekolah dan teman-teman gue buat nantinya bisa ngelanjutin di bidang sains, terutama kimia. Kenapa kimia? Karena dari 4 pelajarab hard science disana nilai gue yang paling mendingan ya kimia.

Itu awalnya.

Menjelang SNMPTN gue mulai cari-cari jurusan yang sesuai kemampuan gue. Kalau mau berbicara fakta, nggak ada. Gue ngerasa SNMPTN itu cuma buang-buang waktu dan ngorbanin perasaan karena gue tau 2 hal: kemampuan IPA gue pas-pasan dan nilai gue bakal kalah sama temen-temen gue. Hasilnya udah bisa ketebak, gue ditolak melulu.

Capek sama IPA, gue akhirnya memilih jalur IPS murni waktu SIMAK. Dan gue keterima di jurusan Sastra Cina.

Sastra?

Ya.

Gue tau mayoritas orang akan menganggap sastra itu bukan apa-apa. Apalagi dengan latar SMA gue yang kayak begitu, banyak orang yang menyayangkan sih sebenernya. 3 tahun gue jumpalitan biar lulus, kuliahnya di sastra. Mau jadi apa? Kalo boleh jujur, kadang perasaan iri sama temen sendiri itu pasti ada. Apalagi untuk kedepannya, beasiswa untuk jurusan mereka bertebaran disana-sini. Banyak orang yang bakal memandang kagum sama mereka sambil nanya, "Masuk jurusan X susah nggak sih?" Biasanya sih yang sastra bakal dilewatin.

But you know what, sastra nggak segampang itu. Apalagi gue mempelajari bahasa Mandarin yang katanya bahasa nomor dua tersulit di dunia. Bahasa sendiri aja pusing, ini lagi bahasa orang. Belajar bahasa aja? Oh, tentu nggak. Masih ada linguistik. Dan jangan lupa ada sejarah juga. Sekali lagi, sastra nggak hanya belajar bahasa asing atau bagaimana cara bikin puisi yang baik dan benar.

Setelah belajar hampir setahun, gue akhirnya mulai nyaman dengan status sebagai anak sastra. Meskipun gue yakin masih ada beberapa orang yang beranggapan kalau sastra nggak sesusah teknik atau kedokteran, gue nggak bisa mengubah pendapat itu. Tapi seenggaknya gue udah jadi orang yang nggak mainstream diantara temen-temen gue meskipun kalo lagi ketemu trus pada khilaf ngebahas pelajaran gue planga-plongo karena nggak ngerti. Lagian nggak mungkin juga gue masuk teknik dengan pola belajar gue yang kayak gini.

Intinya? Suka-suka yang baca aja intinya gimana. Kalo buat gue intinya Tuhan udah menyiapkan segala sesuatunya yang terbaik buat gue. Mungkin gue dibikin masuk sastra biar bisa ekspedisi dalam waktu 1-2 tahun kedepan. Mungkin juga gue disuruh belajar bahasa Mandarin dulu yang bener sebelum ketemu Zhang Yixing. Siapa tau ternyata jodoh.


















Siapa tau.

You Might Also Like

0 comments