11:12:00 PM
Dari gue kecil sampai SMA, kalau ditanya mau jadi apa pas udah gede, gue hampir selalu menjawab 'jadi diplomat'. Kenapa hampir selalu? Karena waktu SMA gue pernah mengalami masa labil, dimana gue terbawa euforia teman-teman gue yang hampir semuanya mau masuk ke jurusan teknik atau kedokteran. Sejak SD sampai SMA gue selalu kepingin masuk jurusan hubungan internasional karena setau gue kalau mau jadi diplomat masuknya jurusan itu. Sewaktu SMA bahkan gue sempat mau jadi dokter forensik padahal gue sampai sekarang nggak berani megang kodok.
Tapi semakin gue besar, gue akhirnya sadar kalau hidup itu nggak seperti yang kita inginkan. Gue akhirnya masuk jurusan yang bukan gue mau pada pilihan pertama, tapi nyokap gue bilang (atau menghibur) kalau jadi diplomat dari sastra pun bisa. Gue nggak membantah, juga nggak mengiyakan. Dan semakin hari gue semakin menyadari kalau jadi diplomat itu bukan gue banget. Untuk jadi diplomat harus punya skill negosisasi dan debat yang bagus, sementara gue orang yang menghindari berdebat dengan orang lain.
Butuh waktu cukup lama untuk mendewasakan gue dan meskipun gue tahu kalau gue masih jauh dari dewasa, baik sikap maupun pikiran, tapi gue akhirnya menyadari kalau yang gue ingin itu keliling dunia. Menjadi diplomat itu hanya satu pekerjaan yang terlintas di pikiran gue saat gue kecil untuk mewujudkan keinginan gue.
Tapi gue yakin kalau ditanya "apa cita-cita kamu?" lalu gue jawab "keliling dunia" pasti gue dianggap kekanak-kanakan. Tapi apa iya cita-cita itu harus berkaitan dengan pekerjaan dengan upah bagus yang punya peluang besar sepuluh atau dua puluh tahun lagi?
0 comments